Selasa, 04 April 2017

Segelintir cerita di Era 90-an




Bagi teman-teman yang lahir pada tahun 90-an khususnya di daerah Kalimantan Barat dan khususnya lagi di daerah (gak harusnya disebutin hehee) pasti pernah ngerasain berada dalam situasi dunia yang kalo menurutku sih  menyeramkan dimana kami harus menajani kehidupan ngungsi-mengungsi (entah apa bahasa bakunya hihihi) dan kabur-kaburan. Waktu itu usiaku kurang lebih 5 taun-an dan aku tidak terlalu mengingat dengan baik detailnya kejadian waktu itu intinya orang-orang menyebutnya kerusuhan dan aku juga gak ngerti entah apa penyebabnya. Seingatku pernah suatu kali rumah kami menjadi tempat mengungsi oleh tetangga-tetangga terdekat dan kami semua berkumpul didalam rumah tidak ada yang berani berkeliaran kecuali yang bapak-bapak karena memang mereka semualah yang menjadi security kami.
Pernah ada kejadian pada suatu malam kami dikejutkan oleh oleh teriakan salah satu dari bapak-bapak yang jaga tadi bahwa ada kabar dari bapak penjaga lainnya yang lagi sebut saja ngeronda atau patroli agar kami semua keluar dari rumah dan berlari mencari tempat persembunyian ke hutan untuk bersembunyi karena katanya ada musuh yang datang dan tanpa ba bi bu kami semua keluar rumah dan lari terbirit-birit masuk ke hutan dan menyebrangi anak sungai. Aku agak lupa juga tepatnya kami bersembunyi dihutan yang mana karena aku sendiri waktu itu kaburnya masih digendong sama kakakku yang tertua dan adikku yang pada waktu itu baru berusia ± 2 taun-an digendong sama ibu sementara kedua abangku juga berlari mengikuti rombongan.

Lucunya dalam situasi panik gitu kami masih sempat ketawaan akibat ada salah satu bapak yang ternyata gak ikut jaga sama bapak-bapak yang lainnya ikutan kabur bersama kami. Setelah sampai ditempat persembunyian kami gak dibolehin berisik dan lampu senter/lentera yang kami bawa juga harus dimatiin gak boleh ada satupun yang nyalain penerangan kecuali ada instruksi dari pengarah jalan kami yang aku juga lupa entah siapa (banyak lupanya sih). Suasana tempat persembunyian kami benar-benar hening dan untungnya adikku yang baru berusia 2 taun-an juga ternyata bisa diajak bekerja sama dia gak rewel karena emang lagi tidur juga sih. Beberapa saat kemudian situasi pun udah rada tenang karena emang ternyata teriakan bapak yang tadi bukan karena adanya serangan musuh tapi dia teriak niatnya mau minta tolong karena lenteranya mati hahahaa.
Kembali ke cerita bapak-bapak yang tadi gak ikutan jaga, waktu itu ketika kami di beritahukan bahwa kami udah boleh kembali pulang ke rumah (karena sebetulnya  emang aman-aman aja) kami semua keluar dari hutan tempat kami bersembunyi dan di pertengahan jalan tiba-tiba dari arah belakang terdengar bunyi bukkkkk adohhhh haiiii, kami semua terhenti dan menoleh ke belakang dan ternyata saudara-saudara si bapak itu jatuh terjungkal karena kakinya kejepit akar kayu dan lebih kasiannya lagi karena si bapak itu juga lagi gendong anaknya tapi anehnya rombongan kami pada waktu itu bukannya buru-buru nolongin malah ngakak ngeliatain posisi jatohnya si bapak tadi (gak bisa dideskripsikan dengan kata-kata intinya mereka bilang posisinya bikin ngakak), emang keterlaluan ya hihiihi ada yang jatoh bukannya segera ditolongin dulu malah diketawain dulu. Kabarnya sekarang si bapak itu udah meninggal turut berduka cita ya buat keluarganya dan buat si bapak itu maafkan kami semua dan semoga arwah beliau diterima Yang Maha Kuasa Aminn.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar